11 Nov 2014

10 Kiat Menjadi Pengusaha Sukses



1. Selalu Penuh Ide
Soal ide ini, sangat krusial, karena idelah awal dari segalanya. Tidak penting apakah ide itu mustahil dilaksanakan, atau bahkan anda tak tahu bagaimana cara memulai ide tersebut. Seorang wirausahawan harus dipenuhi ide atau gagasan untuk bisa menemukan inovasi-inovasi baru dalam bisnisnya.
2. Semangat Tanpa Batas
Memiliki sebuah bisnis, artinya anda harus memiliki stok semangat yang tak terbatas. Anda tetap melakukan pekerjaan anda dengan semangat meski orang lain sudah loyo. Seorang pengusaha sejati pasti bilang, semangat itu gak boleh hilang apalagi habis kuotanya. Yang terbatas itu hanya paket internet, yang paket gaul! Kalau semangat, harus full tank!
3. Berani Berimajinasi
Ide, inovasi baru hanya bisa didapatkan oleh seorang yang imajinatif, bukan orang-orang yang ragu. Sekali lagi, tidak penting apakah imajinasi anda itu seperti mustahil dilakukan, yang terpenting adalah anda berani membayangkan dan berimajinasi tentang bisnis anda lebih banyak dari orang biasa. Seorang wirausaha sering dibilang ‘gila’ karena imajinasi dan tindakannya yang tidak biasa.
4. Senang pada Pilihan Bisnisnya
Yang terpenting, tanya dulu diri anda apakah anda suka pada ‘niche’ bisnis yang anda pilih atau tidak. karena ini sangat penting. Itulah sebabnya banyak bisnis sukses justru karena berasal dari hobby pemiliknya. Untuk level awal, senang pada bisnis pilihan anda adalah mutlak.
5. Bergaul, dan Tidak Segan Meminta Bantuan
Seorang entrepreneur adalah seorang pembelajar sejati. Tidak hanya bertanya, anda juga harus mau dan tidak ragu meminta bantuan orang lain saat mendapatkan hambatan dalam menjalankan bisnis. Bertanya dan mohon batuan pada siapa? Ya siapa saja, bisa teman, keluarga, bahkan karyawan anda.
6. Sangat Menghargai Waktu
Waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas, karena itu seorang pebisnis sukses akan sangat menghargai waktunya. Hampir tidak ada alasan menunda pekerjaan, karena seorang pengusaha akan merasa sangat rugi jika ada sumber daya waktu terbuang percuma, dan itu berakibat akan memperlambat laju bisnis.
7. Rendah Hati dan Ingin Belajar dari Siapapun
Kadang masukan, ide-ide hebat justru datang dari orang yang tak terduga. Bisa dari teman, sopir taksi, bahkan dari anak kecil sekalipun. Siapkanlah diri dan jiwa anda menerima setiap ilmu dari siapapun. Lihat apa yang dikatakannya, bukan siapa yang mengatakannya.
8. Menghapus Kata ‘Menyerah’ dari kamus Pribadi Anda
Bagaimanapun sulitnya, apapun tantangannya, semua pasti bisa diselesaikan. Resiko adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah bisnis. Bahkan resiko dicibir, dilecehkan atau dihina. Tidak pernah ‘melambaikan tangan pada kamera’ tanda menyerah. itulah seorang entrepreneur.
9. Siap Bekerja Keras
Calon pengusaha sukses tak pernah menganggap remeh proses kecil dalam bisnisnya. Dia menyadari pentingnya bekerja keras dalam berbisnis. Mendirikan bisnis sendiri berarti Anda harus memikirkan nama perusahaan, identitas, logo, karakter produk dan situs pemasarannya. Semua itu hanya bisa diperoleh dengan kerja keras.
10. Jiwa Tawakkal nya Besar
Seorang pedagang, pengusaha, wirausahawan sangat berkawan dekat dengan ALLAH, Tuhan Semesta Alam. Karena setiap pengusaha sangat paham bahwa hanya ALLAH-lah yang mampu membolak-balikkan hati setiap orang. Jadi seorang entrepreneur sangat sadar bahwa konsumennya memilih menggunakan produknya sangat terkait pada ‘JASA” Allah yang menggerakkan hati orang tersebut.

16 Feb 2014


Menahan Diri

Artikel Keluarga Sakinah

Senin, 17 Februari 2014

            Rumah tangga merupakan perpaduan antara dua jenis makhluk yang berbeda, suami dengan istri. Dari perpaduan ini diharapkan terwujud kemaslahatan-kemaslahatan yang tidak bisa terwujud tanpanya, namun demikian dalam perjalanan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan tersebut peluang terjadinya konflik dan perselisihan antara suami-istri cukup terbuka lebar, walaupun dalam tatanan rumah tangga suami adalah pemimpin dan istri wajib mematuhi suami dalam batas-batas yang ma’ruf, hal ini tidak mematikan sama sekali peluang perselisihan karena bagaimana pun tidak ada kesamaan seratus persen antara dua orang di dunia ini termasuk suami-istri, sebanyak apapun kesamaan antara keduanya tetap menyisakan sisi perbedaan yang menjadi pemicu perselisihan bahkan terkadang persamaan dalam kondisi-kondisi tertentu justru malah menjadi sebab perselisihan.

               Oleh karena itu suami-istri tidak perlu terlalu takut terhadap perselisihan karena ia pasti terjadi dalam kehidupan rumah tangga, membersihkan rumah tangga dari perselisihan adalah omong kosong, justru perselisihan merupakan nuansa –kata orang, bumbu penyedap rumah tangga- yang tanpanya suami-istri tidak akan mengenyam nikmatnya keserasian dan keharmonisan bahkan jika perselisihan disikapi dengan bijak dan baik maka ia bisa menjadi pupuk penyubur ketenteraman rumah tangga.
Menahan diri
Perselisihan terjadi ketika keinginan dan harapan suami dan istri tidak terakomodir dengan baik, yang satu ingin ke selatan pada saat yang sama yang lain ingin ke utara dan tidak ada dari keduanya yang bersedia mengalah. Perselisihan biasanya diikuti dengan kekesalan dan kemarahan karena keinginan dan harapan yang menurutnya baik tidak direspon oleh pasangan, sebaliknya pasangan juga demikian.
                 Marah adalah emosi karena itu pertimbangan nalar pada saat marah cenderung terbenam karena kuatnya sinar pengaruh emosi. Oleh karena itu jika marah tidak terkontrol dan pemiliknya tidak menahan diri maka peluang lahirnya tindakan destruktif terbuka lebar, karena kemarahan cenderung kepada akibat yang umumnya disesali, maka agama Islam memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya.

Firman Allah,
وَالكَاظِمِيْنَ الغَيْظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ المُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْسَ الشَدِيْدُ بِالصُّرُعَةِ وَلَكِنَّ الشَدِيْدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang kuat itu bukan dengan bantingannya, akan tetapi orang kuat itu adalah orang yang memiliki dirinya pada saat marah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

               Bukankah orang yang paling berhak kita menahan amarah di hadapannya adalah orang yang mendampingi kita? Termasuk menahan diri pada saat perselisihan dengan pasangan adalah mengontrol ucapan, hindari mencaci, menghina, sumpah serapah, kata-kata kasar dan ucapan-ucapan yang tidak layak lainnya di mana ia tidak patut diarahkan kepada orang lain, lebih-lebih kepada pendamping kita, di samping itu kata kasar bisa melukai hati dan apabila hati telah luka maka penyelesaian perselisihan semakin rumit.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَبَّابًا، وَلاَ فَحَّاشًا وَلاَ لَعَّانَا
Dari Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah pencaci, bukan pengucap kotor dan bukan pelaknat.” (HR. Al-Bukhari).

Termasuk menahan diri adalah menahan anggota badan dari melakukan perbuatan-perbuatan tercela: memukul, menendang, membuang, membanting dan tindakan-tindakan emosional lainnya karena tindakan-tindakan tersebut merupakan pelanggaran dan tindakan melampui batas yang tidak pada tempatnya yang justru membuka konflik baru.

Ketika sebagian istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuntut sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak beliau miliki, beliau tidak menghardik mereka dan tidak melakukan kekerasan kepada mereka, yang beliau lakukan hanyalah meminta mereka memilih antara kenikmatan dunia atau Allah, RasulNya dan alam akhirat.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, aku berkata kepadamu suatu perkara, aku tidak ingin kamu memutuskan sebelum kamu berunding dengan kedua orang tuamu.” Aisyah bertanya,”Apa itu ya Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah, “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 28-29).
 Aisyah menjawab, “Aku memilih Allah, RasulNya dan hari Akhirat, aku tidak perlu berunding dengan kedua orang tuaku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum.
Ketika ucapan tersebut dibacakan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain mereka semua menjawab sama dengan jawaban Aisyah. Selesai persoalan karena menahan diri tanpa kemarahan dan kekerasan. Wallahu a’lam.